Plengkung – G Land – Ujung Pulau Jawa

Saat menulis artikel perjalanan ini, bulu romaku berdiri memikirkan betapa menggodanya pesona alam di Indonesia. Sungguh Indonesia adalah negara dengan karunia Tuhan yang luar biasa, dengan ribuan tempat wisata yang menawan dan menarik. Dan kali ini, GreenTravelers akan membuat catatan perjalanan singkat perjalanan kami ke Plengkung.

Peta Plengkung Taman Nasional Alas Purwo
Koordinat Plengkung

Continue reading “Plengkung – G Land – Ujung Pulau Jawa”

Advertisements

Karimun Jawa – Keindahan Tiada Tara

Salam Traveling! Kali ini GreenTravelers akan mengulas singkat tentang Karimun Jawa (Karimunjawa / Karjaw), sebuah objek wisata yang akhir-akhir ini mulai populer dan diminati. Mudah-mudahan artikel ini bisa membantu bagi yang mau traveling ke sana liburan nanti.

Akses ke Karimun Jawa sebenarnya tidaklah sulit, hanya melelahkan. Dari Semarang, kita perlu naik mobil (atau angkutan umum) ke Jepara untuk naik KM Muria menuju Karimun Jawa. Perjalanan dari Semarang menuju Jepara kurang lebih dua sampai tiga jam, tergantung kondisi lalu lintas. Sebaiknya tibalah di Jepara (di pelabuhan) sebelum jam 9 pagi karena KM Muria berangkat jam 9 pagi. Tiket kapal yang kelas ekonomi kurang lebih sekitar Rp.30.000,- per kepala.

Perjalanan menuju Karimun Jawa 6 jam tepat (yap, persis 6 jam) dan tiba di Pulau Menjangan Besar jam 3 sore. Selama 6 jam di kapal, Anda bisa tiduran ataupun menuju buritan melihat laut. Tolong ya, jangan buang sampah ke laut. Mari kita jaga aset berharga negeri kita dengan sebaik-baiknya.

Sesampainya di Pulau Menjangan Besar, Anda bisa mulai mencari penginapan di sepanjang jalan. Saran GreenTravelers, sebaiknya ikut agen perjalanan khusus Karimun Jawa yang ada di Semarang atau di Solo. Selain hotel, makan dan transportasi sudah tersedia, perjalanan juga lebih nyaman. Continue reading “Karimun Jawa – Keindahan Tiada Tara”

Plastic Diet

Plastik adalah salah satu hasil bikinan manusia yang (sebenarnya) kurang ramah lingkungan. Bayangkan sebuah plastik akan tetap tertimbun dan sangat sulit terurai di alam. Bila setiap hari produksi plastik ini terus berjalan, maka jumlah plastik akan semakin menumpuk dan menumpuk.

Di luar negeri seperti China dan Jepang, orang-orangnya sudah mulai sadar akan keadaan ini dan mulai menggalakkan diet kantung plastik. Apakah kita orang Indonesia akan terus “ketinggalan”? Mari kita simak video “Plastic Diet” berikut ini:

Apple Mengubah Dunia Pendidikan – Suatu Inspirasi Hidup Lebih Hijau

Apple Education Event

Sudah bukan menjadi rahasia lagi bila inovasi-inovasi yang diciptakan perusahaan komputer terbesar di Amerika ini selalu ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Berbagai revolusi dalam penemuan smartphone hingga tablet mengubah dunia ini menjadi lebih baik. Hebatnya lagi, Apple adalah salah satu perusahaan besar di dunia yang peduli dengan lingkungan.

Tengok saja desain Macbook Pro yang menggunakan casing aluminium dan sedikit komponen plastik di dalamnya. Bahkan Apple sudah mulai menghilangkan penggunaan CD/DVD sebagai media installer dan menggantinya dengan toko online (yang tidak meninggalkan residu). Begitu pula dengan kabel yang digunakan, bahan yang digunakan sebagai pembuat lebih ramah lingkungan.

Nah, kali ini GreenTravelers membahas sebuah event yang diadakan Apple tanggal 19 Januari 2012 kemarin di New York. Sebelumnya tulisan ini bukan untuk mempromosikan Apple, namun lebih ke arah inovasi sebuah perusahaan yang notabene sudah besar tapi tetap memperhatikan lingkungannya.

Continue reading “Apple Mengubah Dunia Pendidikan – Suatu Inspirasi Hidup Lebih Hijau”

Is Three A Magic Number?

Is three a magic number? Apakah angka tiga merupakan angka ajaib? Butuh tiga kaki untuk membentuk sebuah tripod. Butuh tiga kaki untuk memberdirikan satu meja. Donal Bebek punya tiga orang keponakan. Sesuatu selalu dimulai pada hitungan ketiga. Dan hari ini saya akan menuliskan tiga kisah yang kupelajari selama tahun 2011. Hanya tiga, tidak lebih. Mudah-mudahan tiga hal yang kudapatkan di tahun 2011 bisa menginspirasi pembaca sekalian. Selamat membaca!

Satu: Faith

Saya dibesarkan dengan latar belakang keluarga Cina totok, di mana setiap anak-anaknya dituntut harus berhasil dalam segala hal, termasuk dalam pelajaran. Kalau nilai di sekolah jelek biasanya akan dimarahi dan dikurung di rumah supaya belajar. Dan akhirnya saya pun tumbuh menjadi seorang anak yang kuper (kurang pergaulan). Tapi satu hal yang selalu jadi kebangganku: saya sering langganan juara kelas.

Segala sesuatu pada akhirnya akan jenuh di satu titik dan akan berbalik keadaannya. Ketika saya masuk SMA, pelan-pelan saya mulai membuka diri untuk dunia luar. Saya pun mulai belajar bergaul. Dan dalam tiga tahun sekolah, saya perlahan tapi pasti berubah dari seorang anak yang kuper menjadi penuh percaya diri (bahkan sering kelewat pede). Bahkan ketika ujian praktek akhir nasional untuk mata pelajaran bahasa Inggris, saya dengan kelewat pede mementaskan drama monolog kisah sepuluh dongeng yang saya campur jadi satu. Teman-teman SMA saya masih ingat cerita itu hingga saat ini.

Proses penemuan jati diri pun berlanjut hingga kuliah. Pekerjaan yang saya tekuni pun beraneka ragam, mulai dari berjualan baju, menjadi guru les, hingga menjadi seorang penyiar radio. Dalam proses pencarian jati diri itu, saya kemudian sadar akan ketertarikanku pada tiga hal (lagi-lagi angka tiga): fitness, EO dan traveling. Tiga hal itu yang akhirnya tumbuh menjadi identitas saya hingga hari ini.

Kecintaan saya terhadap traveling timbul ketika suatu hari saya membaca sebuah artikel yang membahas pulau Sempu di selatan Malang. Saya tertarik dengan indahnya pemandangan dan keunikan pulau itu. Dengan bermodalkan keberanian, saya pun kemudian mengajak teman-teman saya untuk adventure ke sana, padahal saya sendiri pun belum pernah ke sana. Tapi ya dengan modal keberanian sajalah kami berangkat.

Perjalanan lima jam dari Surabaya, belum lagi harus menyeberangi selat, trekking di hutan selama dua jam, akhirnya kami tiba di Segara Anakan. Yang kami temukan di sana adalah sebuah pemandangan menakjubkan yang benar-benar membuat kami merasakan kebesaran kuasa penciptaan Tuhan, bahkan mungkin bagi seorang agnostik sekalipun. Jujur saja saat itu saya langsung jatuh cinta. Jatuh cinta dengan keindahan dan kemolekan dari alam liar. Jatuh cinta dengan semangat petualangan. Dan saya jatuh cinta dengan traveling. Continue reading “Is Three A Magic Number?”

Gajah Sumatera Terancam Punah

Gajah Sumatera
Gajah Sumatera

Kepunahan, artinya tidak akan ada lagi spesies yang sama di muka bumi ini. Selamanya spesies yang sama tidak akan bisa ditemukan lagi di sudut manapun di bumi ini. Salah satu yang menjadi sorotan WWF (World Wildlife Fund) adalah terancam punahnya gajah Sumatera. Dalam rilis resmi situ WWF tanggal 24 Januari lalu, status gajah Sumatera dinaikkan dari “Terancam” menjadi “Sangat Terancam”. Dikhawatirkan populasi gajah Sumatera ini akan punah dalam 30 tahun.

Jumlah populasi gajah ini menurun dari angka 5.000 ekor pada tahun 1985 menjadi 2.400 – 2.800 ekor saja. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan populasi adalah habitatnya. Meskipun undang-undang Indonesia melindungi, tetapi sebagian besar dari populasi gajah ini hidup di luar area konservasi. Hal ini tejadi karena penggundulan dan konversi hutan menjadi area perkebunan yang menyebabkan habitat gajah-gajah ini semakin berkurang.

Padahal Sumatera termasuk daerah yang memiliki habitat gajah terbesar di dunia setelah India dan Sri Lanka. Tapi Sumatera juga termasuk wilayah yang tingkat penggundulan hutannya tertinggi di dunia. Sumatera kehilangan dataran rendah alami sebanyak dua per tiga bagian hutan dalam kurun waktu 25 tahun ini. Padahal dataran rendah ini habitat yang ideal untuk gajah Sumatera.

“Hewan ini akan segera punah,” kata Dr. Carlos Drew dalam rilis resmi tersebut.

Penggundulan hutan penyebab berkurangnya populasi ini terjadi banyak di Provinsi Riau. Di sana, sekitar 80% jumlah gajah berkurang. Artinya, 6 dari 9 gajah menghilang di provinsi tersebut.

Kini saatnya pemerintah Indonesia lebih memperhatikan keselamatan dari spesies-spesies yang “dititipkan” Sang Pencipta kepada negara kita ini. Jangan sampai anak-cucu kita kelak hanya bisa melihat gajah Sumatera (dan spesies terancam lainnya) lewat buku cerita atau foto saja.

Zom-bee: Lebah Zombie

Lebah Zombie
Lalat parasit menginfeksi seekor lebah, mengubahnya menjadi zombie sebelum benar-benar membunuhnya.

Sebuah penemuan baru akhir-akhir ini menemukan fakta bahwa seekor lebah bisa menjadi seperti zombie (tidak mati namun juga tidak hidup) sebelum benar-benar mati karena disebabkan oleh lalat parasit. Lalat parasit tersebut (nama ilmiahnya Apocephalus borealis) menanamkan telurnya dalam perut sang lebah sebelum akhirnya bayi-bayi lalat keluar dari kepala lalat itu, menghancurkannya dan membunuhnya. Tapi ini masih belum seberapa. Sebelum bayi lalat ini keluar, sang lebah mulai bertingkah aneh. Lebah-lebah yang terinfeksi akan meninggalkan sarangnya, berkumpul dekat cahaya, dan terbang dengan cara yang tidak wajar. Mereka hidup tapi tidak hidup. Mereka menjadi lebah zombie.