Is Three A Magic Number?

Is three a magic number? Apakah angka tiga merupakan angka ajaib? Butuh tiga kaki untuk membentuk sebuah tripod. Butuh tiga kaki untuk memberdirikan satu meja. Donal Bebek punya tiga orang keponakan. Sesuatu selalu dimulai pada hitungan ketiga. Dan hari ini saya akan menuliskan tiga kisah yang kupelajari selama tahun 2011. Hanya tiga, tidak lebih. Mudah-mudahan tiga hal yang kudapatkan di tahun 2011 bisa menginspirasi pembaca sekalian. Selamat membaca!

Satu: Faith

Saya dibesarkan dengan latar belakang keluarga Cina totok, di mana setiap anak-anaknya dituntut harus berhasil dalam segala hal, termasuk dalam pelajaran. Kalau nilai di sekolah jelek biasanya akan dimarahi dan dikurung di rumah supaya belajar. Dan akhirnya saya pun tumbuh menjadi seorang anak yang kuper (kurang pergaulan). Tapi satu hal yang selalu jadi kebangganku: saya sering langganan juara kelas.

Segala sesuatu pada akhirnya akan jenuh di satu titik dan akan berbalik keadaannya. Ketika saya masuk SMA, pelan-pelan saya mulai membuka diri untuk dunia luar. Saya pun mulai belajar bergaul. Dan dalam tiga tahun sekolah, saya perlahan tapi pasti berubah dari seorang anak yang kuper menjadi penuh percaya diri (bahkan sering kelewat pede). Bahkan ketika ujian praktek akhir nasional untuk mata pelajaran bahasa Inggris, saya dengan kelewat pede mementaskan drama monolog kisah sepuluh dongeng yang saya campur jadi satu. Teman-teman SMA saya masih ingat cerita itu hingga saat ini.

Proses penemuan jati diri pun berlanjut hingga kuliah. Pekerjaan yang saya tekuni pun beraneka ragam, mulai dari berjualan baju, menjadi guru les, hingga menjadi seorang penyiar radio. Dalam proses pencarian jati diri itu, saya kemudian sadar akan ketertarikanku pada tiga hal (lagi-lagi angka tiga): fitness, EO dan traveling. Tiga hal itu yang akhirnya tumbuh menjadi identitas saya hingga hari ini.

Kecintaan saya terhadap traveling timbul ketika suatu hari saya membaca sebuah artikel yang membahas pulau Sempu di selatan Malang. Saya tertarik dengan indahnya pemandangan dan keunikan pulau itu. Dengan bermodalkan keberanian, saya pun kemudian mengajak teman-teman saya untuk adventure ke sana, padahal saya sendiri pun belum pernah ke sana. Tapi ya dengan modal keberanian sajalah kami berangkat.

Perjalanan lima jam dari Surabaya, belum lagi harus menyeberangi selat, trekking di hutan selama dua jam, akhirnya kami tiba di Segara Anakan. Yang kami temukan di sana adalah sebuah pemandangan menakjubkan yang benar-benar membuat kami merasakan kebesaran kuasa penciptaan Tuhan, bahkan mungkin bagi seorang agnostik sekalipun. Jujur saja saat itu saya langsung jatuh cinta. Jatuh cinta dengan keindahan dan kemolekan dari alam liar. Jatuh cinta dengan semangat petualangan. Dan saya jatuh cinta dengan traveling. Continue reading “Is Three A Magic Number?”

Advertisements

STOP ANIMAL ABUSE !!

Di Amerika, kasus penyiksaan terhadap hewan peliharaan (animal abuse) begitu banyak. Beberapa di antaranya sangat kejam dan bahkan terlalu keji untuk dilakukan manusia. Bahkan GreenTravelers pernah membaca sebuah kasus di mana anak-anak remaja memasukkan beberapa ekor kucing yang baru lahir ke dalam microwave dan memasaknya hingga mati! Sungguh biadab!!

Postingan kali ini GreenTravelers mengajak Anda untuk melihat sebuah video. (PS: ada beberapa gambar yang dikategorikan disturbing picture.) Setelah melihat video ini, GreenTravelers berharap agar Anda lebih menyayangi hewan peliharaan Anda: anjing atau kucing Anda di rumah, dan hewan peliharaan Anda. Hentikan kekerasan terhadap hewan peliharaan.

We love animals. Be vegetarian!

Green Lantern? Green Hornet? No, it’s Green Ambassador!

Sudah pada nonton Green Hornet? Untung ketika film ini diputar, film asing masih belum dicekal. Pasti banyak di antara penggemar film sudah menonton film ini. Kalau Green Lantern mungkin nasibnya tidak sebaik saudaranya Green Hornet karena hingga saat ini belum masuk Indonesia.

Lantas, siapakah Green Lantern dan Green Hornet itu? Mereka adalah tokoh superhero kartun anak-anak yang kemudian diadaptasi menjadi film bioskop. Persamaan dari kedua tokoh “Green” ini adalah mereka superhero yang senantiasa menjaga perdamaian bumi dari ancaman si jahat yang mencoba mengacaukannya. Sifat mereka begitu heroik, tanpa pamrih sehingga hampir semua anak-anak mengidolakan para tokoh superhero ini. Well, bukan hanya Green Hornet dan Green Lantern saja, melainkan hampir semua tokoh superhero menjaga perdamaian dunia. Jujur saja ketika kecil saya sangat mengidolakan Spiderman. Semua anak-anak ingin menjadi superhero!

Tapi seiring betambah dewasanya seseorang, kita menyadari kalau superhero tersebut adalah rekaan semata, fiksi dan khayal. Kekuatan super itu tidak ada. Juga hingga saat ini belum ada cerita seseorang yang berhasil mendapatkan kekuatan super dari luar angkasa, ataupun setelah digigit laba-laba. Kita pun mulai meninggalkan sifat kanak-kanak tersebut. Seolah ingin menutupi kekecewaan kita, kita bahkan merasa bumi ini aman-aman saja: tidak ada ancaman dari luar angkasa, dokter gila yang ingin menguasai dunia dan sebagainya. Bumi ini baik-baik saja. Superhero hanyalah omong kosong!

Apa benar begitu? Teruslah membaca hingga akhir tulisan ini dan percaya atau tidak, Anda juga bisa menjadi seorang superhero!


Waktu kecil saya ingin sekali menjadi seorang yang mampu mengendalikan elemen seperti air, api dan angin. Saking berkhayalnya, semasa saya duduk di bangku SMP saya pun sempat menulis beberapa cerita pendek yang kuberi nama RPN (Role Playing Novel). Di situ diceritakan saya adalah seorang superhero yang melindungi bumi ini dari invasi dimensi lain. Di akhir cerita, musuh berhasil diusir dan bumi berhasil diselamatkan.

Ketika tumbuh dewasa, seperti orang kebanyakan, saya pun sadar semua superhero adalah cerita fiksi belaka. Tidak ada kekuatan super, tidak ada invasi dari dimensi lain. Bedanya, saya masih bercita-cita untuk menjadi seorang pahlawan yang melindungi bumi.

Hingga akhirnya aku sadar, bumi saat ini tengah terancam. Bukan dari invasi alien, dokter gila yang hendak menguasai dunia, dll, melainkan bumi ini tengah menuju kehancuran oleh karena ulah manusia sendiri.

Hal sederhana yang menjadi bukti bumi ini terancam adalah: global warming.

Dan melihat bumi ini terancam, sudah menjadi tugas seorang “superhero” seperti saya untuk melindungi bumi ini. Eng ing eng….!!! Superhero tanpa kekuatan super: Green Ambassador!!

Ya, semua dari kita bisa menjadi superhero. Kita bisa melindungi bumi yang kita cintai ini dari kehancuran. Kita bahkan tak perlu kekuatan super untuk melakukannya. Yang kita perlukan hanya dua bentuk kekuatan biasa yang bernamakan “kesadaran” dan “take action”.

Sadar kalau setiap dari kita adalah superhero penjaga bumi ini. Sadar akan kondisi bumi yang semakin bobrok. Sadar akan kelangsungan tempat tinggal kita untuk generasi anak cucu kita.

Take action dengan mulai menjaga kebersihan dan kelestarian bumi. Menyelamatkan hutan, melindungi laut, menjaga kualitas tanah dan udara. Tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi emisi gas buangan, hidup sehat dan bersih, mengurangi plastik, daur ulang material dan sebagainya.

Dengan kedua “kekuatan” itu, maka lahirlah juga seorang superhero Green Ambassador baru. Green Ambassador bertugas menyadarkan orang-orang agar semakin peduli dengan bumi ini, menginspirasi orang untuk hidup hijau, dan melindungi bumi ini.

Dan saat ini kami sudah menjadi seorang superhero tanpa kekuatan super. Apa bedanya Green Ambassador dengan Green Lantern atau Green Hornet, toh tugas kami adalah sama: menjaga kelangsungan hidup di bumi ini dan bumi ini sendiri. Lalu, siapa yang hari ini ingin menjadi seorang superhero??

Be a superhero, be a Green Ambassador! Go Green!!

Indonesia Negara Jorok?

Tidak, ini bukan soal kicauan Nazaruddin, atau pun soal korupsi yang merajalela di negri ini. Tulisan ini semata hanya bentuk keprihatinan kurangnya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kebersihan.

Beberapa waktu lalu, teman saya baru saja pulang dari Hongkong dalam rangka liburan. Setelah tak bertemu beberapa lama, akhirnya kami janjian di sebuah cafe di mall. Dalam pertemuan siang itu, begitu banyak cerita yang kami berbagi. Maklum, ia adalah seorang kawan lama yang sudah lama tidak bertemu denganku.

Dalam perbincangan kami sore itu, ia pun menanyakan kabar saya dan kompetisi Hilo Green Ambassador yang saya ikuti. (Hilo Green Ambassador adalah sebuah ajang pencarian duta lingkungan, red). Saya pun dengan bersemangat memaparkan beberapa kenyataan bahwa kondisi bumi ini semakin hari semakin memprihatinkan. Banyaknya orang yang cuek akan lingkungan ini lebih banyak daripada orang yang peduli. Ironis memang. Apalagi di negri kita ini selain sarat korupsi, juga ternyata sarat masalah lingkungan seperti air bersih, hutan, pencemaran laut dan sebagainya.

Saya pun kemudian memberikan beberapa contoh tindakan sederhana yang bisa kita lakukan seperti hemat kertas, mengurangi pemakaian kantung plastik, bawa sumpit dan botol minum sendiri dan sebagainya.

Lantas teman saya langsung tertawa. Saya bingung apa yang lucu di balik masalah serius ini. Kemudian ia berkata, “Indonesia memang negara yang jorok ya.” Kemudian ia melanjutkan, “Saya masih melihat orang-orang buang sampah dari jendela mobil. Trus buang sampah di sungai, udah gitu airnya dipake buat cuci baju dan mandi. Trus di musim lebaran gitu, suara mercon di mana-mana. Wah, parah.”

“Iya sih,” dalam hatiku membenarkan.

Lantas temanku pun langsung memberikan beberapa contoh yang sudah dilakukan Hongkong dan Singapura untuk ramah lingkungan. Di Singapura, membuang sampah dan meludah sembarangan akan didenda sangat berat! Permen karet adalah barang haram di negara itu. Sungai Singapura sendiri sangat bersih, bahkan digunakan sebagai salah satu daya tarik wisatawan yang bekunjung ke sana. Begitu juga dengan pantainya yang digunakan sebagai pementasan “Song of the Sea” dan sebagainya. Kesadaran dari warga Singapura sendiri akan kebersihan sudah otomatis, bukan karena dipaksakan aturan.

Lain lagi kalau di Hongkong. Kalau Anda makan di restoran di Hongkong, jangan berharap ada kertas tissue di meja. Rata-rata menggunakan serbet. Kalau Anda belanja di Hongkong, tidak akan diberikan kantung plastik (kecuali Anda berbelanja barang branded dan mahal). Orang-orang di sana sudah terbiasa membawa kantung belanjaan sendiri dari rumah, atau juga menggunakan ransel untuk menampung belanjaan mereka. Lantas kalau tidak membawa keduanya? Kita bisa mendapatkan kantung plastik dengan membayar lagi beberapa sen.

Dan menurut teman saya, akhir-akhir ini pemerintah Cina baru menggalakkan sebuah perundangan baru mengenai pemisahan limbah. Meniru dari Jepang, setiap rumah tangga diharuskan untuk memilah dan memisahkan sampah menurut jenisnya. Barangsiapa yang mencampur sampah akan dikenakan denda.

Jujur saja saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Ia pun mengatakan di Singapura kita bisa meminum air keran dengan aman. Warganya tidak akan mengalami krisis air bersih seperti di negara kita ini. Solar panel pun sudah dimanfaatkan beberapa gedung tinggi di Singapura dan Hongkong sebagai alternatif energi.

Mendengar cerita teman saya itu, saya semakin sadar betapa sedikitnya orang Indonesia yang peduli akan lingkungan. Sekedar sharing, saya pernah sharing dengan seorang teman saya yang lain. Dalam sebuah perbincangan membahas salah satu mall baru di Surabaya yang sudah Go Green, teman saya yang lain itu dengan cueknya berkata, “Ah buat apa peduli dengan go green go green. Yang penting kan duitnya, keuntungan yang bisa didapat, bukan konsep go green nya.” Saya hanya bisa tersenyum getir mendengar statement dari orang itu.

Kita selalu berharap negara kita maju. Namun pada kenyataannya, karunia Yang Maha Kuasa dan gelar “Zamrud Khatulistiwa” pun tidak bisa kita buktikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Negara maju yang sekelas Singapura dan Hongkong saja tahu caranya Go Green, mengapa kita yang mempunyai seabrek kekayaan alam malah bertindak sebaliknya dengan merusak alam?

Belum lagi mental orang-orang Indonesia yang suka membuang sampah sembarangan, dan yang paling parah, yang ada di otak hanya ada keuntungan dan uang saja. Demi keuntungan dan uang mereka memilih mengorbankan bumi ini dan kepentingan orang banyak. Kalau sudah begitu, tidak salah pernyataan yang diberikan oleh teman saya tadi, “Indonesia memang negara yang jorok ya.”