Gunung Bromo

SIapa tak kenal gunung Bromo? Gunung satu ini terletak di Jawa Timur dan merupakan salah satu objek wisata yang menarik wisatawan baik lokal maupun asing. Gunung berapi yang masih aktif ini menyimpan banyak pesona keindahan dan suasana yang sejuk.

Bromo

Continue reading “Gunung Bromo”

Advertisements

Sejarah Asal Usul Candi Borobudur

BorobudurAsal Usul Sejarah Borobudur – Candi borobudur merupakan salah satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800-an Masehi oleh para penganut agama Buddha Wahayana. Dalam sejarah candi borobudur, terdapat berbagai teori yang menjelaskan asal usul nama candi borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama borobudur kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara yang artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras.

Continue reading “Sejarah Asal Usul Candi Borobudur”

Asal Usul Angkot Medan yang Disebut “Sudako”

ADA banyak angkutan kota (angkot) menggunakan mini bus yang beroperasi di Kota Medan – di antaranya KPUM, Rahayu, Gajah Mada, Desa Maju, Morina, Medan Bus, Nasional, Povri, dll – tapi orang Medan sejak dulu menyamakan semua nama angkot itu dengan kata Sudako. Bagaimana ceritanya?

Sudako memang akrab bagi warga Medan. Jauh sebelum moda transportasi umum bertambah banyak seperti sekarang – taksi, becak mesin, dan tentu saja angkot bermerk lain – Sudako menjadi sarana transportasi andalan warga Medan, selain becak dayung dan bemo tentunya. Awalnya, penamaan Sudako hanya untuk angkot berwarna kuning saja. Lama kelamaan, hampir semua angkot disebut dengan Sudako.

Setelah kami coba telusuri di internet, hampir tak ada referensi baku mengenai hal ini selain sepenggal informasi yang ada di wikipedia. Selain itu, ada sedikit informasi lain dari sebuah blog. Lucu juga rasanya tak ada yang membukukan sejarah angkutan kota yang sangat fenomenal di Kota Medan ini.

Ya, Sudako memang fenomenal. Tak berlebihan rasanya menyebutkan mungkin tak ada warga Medan yang tak mengenal Sudako. Moda transportasi yang kalau dipaksa bisa mengangkut hingga 20 penumpang ini dengan mudahnya bisa Anda temukan di Medan. Malah, saking banyaknya populasinya, Sudako dituding sebagai salah satu biang kemacetan di Kota Medan.

Tudingan yang bukan tanpa alasan. Sudako memang sering kali slonong boy di jalanan. Padahal, populasi Sudako di Medan jumlahnya ribuan unit. Hanya sedikit sopir Sudako yang patuh pada rambu lalu lintas. Sisanya bak raja jalanan. Menaik turunkan penumpang sesukanya, kebut-kebutan sesama sopir, menerobos lampu lalu lintas, bisa berhenti di mana saja, dan parahnya lagi, si sopir kalau sudah kebelet bisa pipis di mana saja. Tinggal buka pintu depan kanan, lalu dengan cueknya si sopir mengencingi roda depan mobilnya sendiri! Selebihnya, tak usah dijelaskan lagi.

Cukuplah cerita soal perilaku sopir Sudako. Kali ini kita hanya ingin membongkar sedikit mengenai asal usul kata Sudako. Karena tanpa referensi baku, asal usul kata Sudako ini lalu kami coba bakukan dari sejumlah informasi dari mulut ke mulut saja.

Ada yang menyebutkan, kata Sudako merupakan singkatan dari kalimat Sumatera Daihatsu Company (Sudaco dan kemudian dibaca menjadi Sudako). Ini mungkin ada benarnya. Bisa jadi angkutan umum pertama di Medan menggunakan mobil bermerk Daihatsu buatan Jepang.

Di Wikipedia, tercatat Sudako pertama menggunakan minibus Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Di Jepang, type ini untuk pertama kali dijual pada tahun 1972. Sekarang ini, Daihatsu type ini sudah jarang terlihat, apalagi yang masih berbentuk Sudako. Jenis mobil ini kini banyak digunakan tukang duplikat kunci. Bagi Anda yang tidak sempat mengenalnya, mungkin olok-olokan nama Daihatsu Truntung bisa lebih mudah membayangkannya. Dinamakan begitu karena suara yang keluar dari knalpotnya trungggggg… tung… tung… tung… tung…

Sudako Daihatsu S38 ini merupakan modifikasi dari mobil pick up. Bagian belakangnya ditambahkan body berbahan plat dilengkapi kaca yang bisa digeser di kedua sisinya. Di belakang, diletakkan dua buah kursi panjang. Pintu masuk belakang dibiarkan terbuka tanpa penutup. Penumpangnya duduk berhadapan. Saking sempitnya, lutut penumpang yang berhadapan sering kali terpaksa bergesekan.

Setelah Daihatsu S38, muncul Daihatsu Hijet 55 Wide dan kemudian diikuti Daihatsu Hijet 1.000. Karena faktor usia, perlahan jenis S38 menghilang dan digantikan dengan minibus keluaran lebih baru.

Meski menyusahkan, situasi begini ada juga untungnya. Ruang yang sempit sering kali menjadi pembuka komunikasi antar penumpang yang tak saling mengenal. Karena armada Sudako masih sedikit, sering kali penumpang bertemu kembali keesokan harinya. Malah tak jarang Sudako menjadi ajang bertukar informasi bagi kaum ibu. Misalnya perbedaan harga bahan pokok di pasar A dan di pasar B. Di Sudako, meski tak saling kenal, kaum ibu anteng-anteng saja berdiskusi mengenai harga cabai, misalnya. Ya persis diskusi kaum bapak di warung kopi lah.

Masih mengutip Wikipedia, trayek pertama kali Sudako adalah Lin 01, (Lin sama dengan trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar Merah (Jalan HM. Joni), Jalan Amaliun (via Jalan Ismailiyah) dan terminal Sambu, terminal pusat pertama angkutan penumpang ukuran kecil dan sedang di Medan.

Selain berasal dari kalimat Sumatera Daihatsu Company, ada juga yang menyebutkan Sudako merupakan singkatan kata Suzuki, Daihatsu dan Colt (Mitsubishi). Angkutan umum di Medan pada era tahun 60 hingga 70an didominasi ketiga merk tersebut. Selain Daihatsu S38, masih ingat kan pada Bemo yang di negeri asalnya disebut Daihatsu Midget? Tahun 60an hingga 80an, Bemo masih merajai jalanan Kota Medan. Malah, Bemo pernah diandalkan menjadi transportasi Medan-Pangkalan Brandan.

Nah, begitulah sedikit penjelasan kenapa angkutan umum di Medan dinamakan Sudako. Ia menjadi nama generik untuk menyebutkan minibus yang digunakan menjadi angkutan kota. Walau sekarang sudah banyak perusahaan angkutan kota yang berbeda nama, perusahaan, dan warna, warga Medan tetap menamai angkutan kota – meski menggunakan Toyota Kijang, Isuzu Panther, Daihatsu Zebra, Espass, bahkan Gran Max, Suzuki Carry – dengan nama Sudako.

(disadur dari www.medantalk.com)

Sejarah Suku Batak di Sumatera

Suku Batak

Versi sejarah mengatakan Si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang. Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.

Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan Si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama Si Raja Buntal adalah generasi ke-20.

Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.

Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.

Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan:

* Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari Selatan Danau Toba (Portibi) atau dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus.Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).

* Sebutan Raja kepada Si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya.

Demikian halnya keturunan Si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dsb. Meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.

Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak Si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga-marga Batak.

Sumber: disarikan dari buku “LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA” cet. ke-2 (1997) oleh Drs Richard Sinaga, Penerbit Dian Utama, Jakarta.

Legend of the Toba Lake (North Sumatera – Indonesia)

Toba Lake

Once upon a time, there was a fisherman lived in aNorth Sumatra. Don’t ask me the year, all I know it was a very long time before you were born. When he was fishing in a river, a big fish was nailed. This fish had gold color all over its body. It was beautiful. The fisherman was very excited. He imagined a delicious dinner in his head. He put the fish in his basket and went home happily.

When he got home, he put the fish in a sink. He grabbed a knife to kill the fish. But when he almost killed it, he saw the fish eyes and felt pity. He took the knife away and put the fish in washbasin and added water in it. “Don’t worry, I wouldn’t kill you” the fisherman said.

The fisherman went fishing again. But this time he couldn’t get any fish. He went home with nothing in his hand. His stomach started to sing. He walked home slouching. He was surprised when he saw smoke came out from his kitchen.

“Who cooked in my kitchen?” he confused.

He took a peep and surprised when he saw a beautiful girl cooked in his house. “Why there’s a girl in my kitchen?” he confused.

The fisherman entered the room. “Who are you?” he asked the girl.

“I’m the fish.” The girl said.

The fisherman looked the washbasin and saw nothing in it. “The fish?” he asked incredulous.

“Yes. You didn’t kill me and I’m very thankful. I will return your kindness.” The girl said.

“That’s ok. I didn’t ask any return” the fisherman said.

“But I have to.”The girl insisted.

“Well, I lived alone. I don’t have family. If you want to be my wife, I will be very happy.” The fisherman asked the girl.

The girl smiled and said “I’d love to but you have to promise me that if we have kid you can’t tell him about me.”

And so, the fisherman and the fish girl were married. And then they had a child called Samo. Samo was very naughty. He couldn’t be advisable. He always played and never helped his parents.

One day Samo was asked to deliver lunch to his father. On his way, he met his friends and forgot to deliver his father’s lunch. Samo played with his friends. When he was tired and hungry, he was resting under a tree and ate his father lunch. Meanwhile his father waited him in starve and tired. His father went home and saw Samo played. “Where is my lunch?” he asked.

“Mmm…mm.. I ate it” Samo said afraid.

“Why you ate it?” his father asked.

“Mmm..mm.. I was hungry after playing with my friend” Samo said.

“You were told to deliver my lunch but you didn’t listen.” his father was very furious. “I can’t handle you anymore. You are very naughty. Go away from me. Don’t come home anymore.” His father yelled and evicted Samo from his house.

And this what happened if you can’t control your mouth when you angry. His father said the words that he wouldn’t suppose to say. “You… fish’s son.”

Suddenly, the sky was getting dark. The storm was breaking the ears. The rain felt from the sky like giant hose sprayed water all over the place. And then the water came out from the land and getting harder.

Sumo’s mother was very sad. “I told you don’t tell him about me” she said to her husband. “Now I’m going back to be fish again. Good by” the mother was transformed magically to be gold fish again and disappear through the water. The water was getting higher and drown the village and formed a lake.

Meanwhile, sumo run to the hill and stayed there. The hill then was surrounded by the lake.

Now the lake was known asTobaLake. Toba came from Tuba word means no mercy. And the hill in the middle calledSamosirIsland. Samosir means ‘Samo di usir’ or in English : Samo have been evicted.

This is just a legend, there were so many versions of the name’s story. You can’t tell which one is really true.