Indonesia Negara Jorok?

Tidak, ini bukan soal kicauan Nazaruddin, atau pun soal korupsi yang merajalela di negri ini. Tulisan ini semata hanya bentuk keprihatinan kurangnya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kebersihan.

Beberapa waktu lalu, teman saya baru saja pulang dari Hongkong dalam rangka liburan. Setelah tak bertemu beberapa lama, akhirnya kami janjian di sebuah cafe di mall. Dalam pertemuan siang itu, begitu banyak cerita yang kami berbagi. Maklum, ia adalah seorang kawan lama yang sudah lama tidak bertemu denganku.

Dalam perbincangan kami sore itu, ia pun menanyakan kabar saya dan kompetisi Hilo Green Ambassador yang saya ikuti. (Hilo Green Ambassador adalah sebuah ajang pencarian duta lingkungan, red). Saya pun dengan bersemangat memaparkan beberapa kenyataan bahwa kondisi bumi ini semakin hari semakin memprihatinkan. Banyaknya orang yang cuek akan lingkungan ini lebih banyak daripada orang yang peduli. Ironis memang. Apalagi di negri kita ini selain sarat korupsi, juga ternyata sarat masalah lingkungan seperti air bersih, hutan, pencemaran laut dan sebagainya.

Saya pun kemudian memberikan beberapa contoh tindakan sederhana yang bisa kita lakukan seperti hemat kertas, mengurangi pemakaian kantung plastik, bawa sumpit dan botol minum sendiri dan sebagainya.

Lantas teman saya langsung tertawa. Saya bingung apa yang lucu di balik masalah serius ini. Kemudian ia berkata, “Indonesia memang negara yang jorok ya.” Kemudian ia melanjutkan, “Saya masih melihat orang-orang buang sampah dari jendela mobil. Trus buang sampah di sungai, udah gitu airnya dipake buat cuci baju dan mandi. Trus di musim lebaran gitu, suara mercon di mana-mana. Wah, parah.”

“Iya sih,” dalam hatiku membenarkan.

Lantas temanku pun langsung memberikan beberapa contoh yang sudah dilakukan Hongkong dan Singapura untuk ramah lingkungan. Di Singapura, membuang sampah dan meludah sembarangan akan didenda sangat berat! Permen karet adalah barang haram di negara itu. Sungai Singapura sendiri sangat bersih, bahkan digunakan sebagai salah satu daya tarik wisatawan yang bekunjung ke sana. Begitu juga dengan pantainya yang digunakan sebagai pementasan “Song of the Sea” dan sebagainya. Kesadaran dari warga Singapura sendiri akan kebersihan sudah otomatis, bukan karena dipaksakan aturan.

Lain lagi kalau di Hongkong. Kalau Anda makan di restoran di Hongkong, jangan berharap ada kertas tissue di meja. Rata-rata menggunakan serbet. Kalau Anda belanja di Hongkong, tidak akan diberikan kantung plastik (kecuali Anda berbelanja barang branded dan mahal). Orang-orang di sana sudah terbiasa membawa kantung belanjaan sendiri dari rumah, atau juga menggunakan ransel untuk menampung belanjaan mereka. Lantas kalau tidak membawa keduanya? Kita bisa mendapatkan kantung plastik dengan membayar lagi beberapa sen.

Dan menurut teman saya, akhir-akhir ini pemerintah Cina baru menggalakkan sebuah perundangan baru mengenai pemisahan limbah. Meniru dari Jepang, setiap rumah tangga diharuskan untuk memilah dan memisahkan sampah menurut jenisnya. Barangsiapa yang mencampur sampah akan dikenakan denda.

Jujur saja saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Ia pun mengatakan di Singapura kita bisa meminum air keran dengan aman. Warganya tidak akan mengalami krisis air bersih seperti di negara kita ini. Solar panel pun sudah dimanfaatkan beberapa gedung tinggi di Singapura dan Hongkong sebagai alternatif energi.

Mendengar cerita teman saya itu, saya semakin sadar betapa sedikitnya orang Indonesia yang peduli akan lingkungan. Sekedar sharing, saya pernah sharing dengan seorang teman saya yang lain. Dalam sebuah perbincangan membahas salah satu mall baru di Surabaya yang sudah Go Green, teman saya yang lain itu dengan cueknya berkata, “Ah buat apa peduli dengan go green go green. Yang penting kan duitnya, keuntungan yang bisa didapat, bukan konsep go green nya.” Saya hanya bisa tersenyum getir mendengar statement dari orang itu.

Kita selalu berharap negara kita maju. Namun pada kenyataannya, karunia Yang Maha Kuasa dan gelar “Zamrud Khatulistiwa” pun tidak bisa kita buktikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Negara maju yang sekelas Singapura dan Hongkong saja tahu caranya Go Green, mengapa kita yang mempunyai seabrek kekayaan alam malah bertindak sebaliknya dengan merusak alam?

Belum lagi mental orang-orang Indonesia yang suka membuang sampah sembarangan, dan yang paling parah, yang ada di otak hanya ada keuntungan dan uang saja. Demi keuntungan dan uang mereka memilih mengorbankan bumi ini dan kepentingan orang banyak. Kalau sudah begitu, tidak salah pernyataan yang diberikan oleh teman saya tadi, “Indonesia memang negara yang jorok ya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s